Timnas oh Timnas

Tulisan ini sengaja ku buat saat hati sedang dihangatkan oleh banyak rasa setelah menyaksikan sebuah pertunjukan adu kehormatan antar bangsa. Telah kita semua ketahui bahwa malam ini Garuda kita telah ditundukkan oleh Macan Malaysia. Sedih, pedih, marah, juga kecewa perasaan itu bercampur jadi satu di hatiku saat ini, 3 gol tanpa balas duta bangsa kita dipermalukan di Bukit Jalil oleh seteru yang belum lama telah kita permalukan di kandang kita Gelora Bung Karno 5 gol dan hanya dibalas 1 gol, ibarat sebuah pembalasan bagaimanapun kekalahan kita kali ini jauh lebih menyakitkan dari apa yang dialami mereka (Malaysia) saat kita tundukkan 5-1.

Bagaikan sebuah skenario film dimana Malaysia berperan Protagonis, menderita di awal dengan sebuah keprihatinan dan dengan usaha keras akhirnya bisa mendapatkan ending yang menyenangkan mampu mengatasi kita (Indonesia) tokoh Antagonis yang digdaya, dan dipuja. Menurutku seperti itulah gambaran posisi kita dan mereka, bayangkan 5 pertandingan sebelumnya Indonesia tak tergoyahkan, 15 gol disarangkan dan hanya kemasukan 2 gol, kata apa yang bisa menggambarkan kondisi tersebut selain “digdaya”, dengan porsi pemberitaan yang sangat banyak di seluruh media lokal maupun nasional membuat mereka menjadi pujaan baru di negeri ini, lihatlah dari 76.871 lembar tiket yang tersedia untuk laga Final leg kedua di kandang kita nanti sampai saat ini saya rasa peminatnya lebih 100 ribu orang, hingga pengurus kewalahan (tak mampu) mengatasinya, bandingkan dengan seteru kita, saat pertunjukan Final leg pertama tadi yang berlangsung di kandang mereka, terlihat ada satu area tribun yang sama sekali tak terisi.

Tapi bagaimanapun juga perhelatan ini belum selesai, skenario masih bisa dirubah, dan cerita tentang penguasa yang berusaha bangkit dari keterpurukan selalu lebih menarik untuk diikuti, awalnya saya kira keterpurukan ini akan menjadi bahan celaan para pendukung timnas kita, ternyata salah, memang ada yang mencela tapi lebih banyak dari mereka yang mendukung, memberi semangat dan optimis kita mampu membalikkan keadaan. Apakah anda tahu, saat pertandingan tadi saya sangat terkesan dengan perjuangan duta bangsa kita pada 10 menit terakhir saat kita sudah tertinggal 3 gol, saat itu terlihat mereka bermain dengan determinasi yang sangat tinggi, tak mempedulikan mereka di sorot kamera dan disaksikan jutaan “pemuja” mereka, lihatlah saat Markus memotong bola yang berbahaya hingga dia harus sedikit terluka dadanya akibat terbentur kaki lawan, tak terlihat seorang Markus Horison yang biasanya “banyak polah” di depan kamera saat disaksikan jutaan “pemujanya”.

Bila kondisi terpuruk ini bisa membuat Para Punggawa Timnas kita bermain dengan determinasi tinggi, tak apalah sekarang kita tertinggal 3 gol, yakinlah nanti kita mampu membalikkan keadaan di “kandang kita”, biarlah kekalahan ini menjadi renungan kita semua, dimana letak kesalahan kita, jangan menyalahkan pihak lain, marilah kita rubah skenario itu, kitalah Protagonisnya, “we are the winner !!”.

by Yuddie

Pendukung setia “Garuda” merah putih

2 Responses to Timnas oh Timnas

  1. birul says:

    Timnas Indonesia sudah gagal menjadi juara, tapi kita harus hargai perjuangan mereka yg telah memberikan yang terbaik buat bangsa ini., GARUDA TETAP DIDADAKU

  2. yuddie says:

    Betul mas Birul, kita harus tetap dukung timnas kita, mereka adalah yang terbaik meski belum bisa mempersembahkan yang terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: