Pak Tua

Entah ini merupakan takdir atau keadaan, mungkin juga ini merupakan sebab akibat, yang jelas beginilah aku sekarang, aku tidak paham siapa dan darimana diriku, entah berapa umurku sekarang, mungkin 70, mungkin 80, atau bahkan 90 tahun, yang ku ketahui dengan pasti bahwa diriku telah lebih dulu lahir dibanding  orang yang lewat dihadapanku itu, lipatan tirai menggambarkan kulit tubuhku, warna putih mewarnai rambutku yang semakin berkurang, ku sandarkan jiwaku pada raga yang makin membungkuk ini, meski banyak yang tak bisa kuingat tapi masih jelas dalam ingatan pakaian yang ku kenakan ini adalah pakaian yang sama yang ku kenakan ketika menjadi anak buah Pak Dirman bergerilya melawan penjajah, hari-hariku kini kuhabiskan menelusuri jalan yang takkan ada habisnya, takkan ku sesali hidupku sebab perjuangan belum berakhir.

Suatu ketika aku bertemu dengan seorang gadis kecil, dia melihatku saat ku usap wajahku yang berkerut.

Gadis kecil bertanya : “Kakek, mengapa wajah kakek berkeriput, dan mengapa tubuh kakek membungkuk ?”.

Aku menjawab : “sebab aku laki-laki”. Begitu aku menjawabnya.

Gadis kecil terdiam, dengan kening yang dikerutkan, Aku hanya tersenyum, ku belai rambutnya lalu kutepuk bahunya sembari ku katakan : “Nak, kamu belum mengerti tentang Laki-laki”, gadis kecil pun tambah kebingungan.

Dari arah belakang gadis kecil datang Ibunya menghampiri, lalu jongkok di depannya  dan mengatakan : “Anakku, Jika seorang Laki-laki benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarganya memang akan demikian”. Lalu sang Ibu bangkit dan menuntun Anaknya untuk pulang.

Sempat terlintas dalam ingatan, aku memiliki keluarga, aku memiliki 3 orang anak laki-laki, tapi di mana keberadaan mereka aku tidak paham, sempat terdengar kabar salah satu dari mereka sekarang menjadi pemimpin di salah satu daerah di negeri ini, “Syukurlah” dalam hatiku berkata, aku senang mendengar kabar ini, biarlah mereka tidak mengetahui keberadaanku, karena mungkin akan merusak kebahagiaan mereka, aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang, bebas menikmati hidup, setiap hari selalu ku pandang ke arah timur menunggu terbitnya sang fajar di pagi hari.

Tulisan ini lahir dari Imajinasi yang muncul saat diri dibuat puyeng oleh pekerjaan yang menumpuk !.

Terinspirasi oleh gambar yang diambil dari temanku Faisal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: