Tulisan setelah Nonton Film

Akhirnya nonton juga film Ketika Cinta Bertasbih, film yang dihebohkan beberapa orang temanku beberapa bulan lalu, meski baru nonton sekarang saat sekuel kedua film ini sudah beredar, apa komentarku setelah nonton film ini ?, di sini saya tidak akan membahas jalannya cerita, tentunya sudah telat lah, karena sekarang sudah jamannya membahas yang sekuel kedua, lagipula saya bukan ahlinya bedah film, saya lebih suka memperhatikan karakter tokoh Abdullah Khaerul Azzam, pemeran utama pria di film ini.

Abdullah Kaerul Azzam, Lelaki sejati yang punya tingkat keimanan tinggi, Pintar dan berjiwa enterpreneur, diceritakan dia hidup sudah sembilan tahun di Cairo Mesir untuk menyelesaikan studi S1 nya, membiayai hidup dan kuliahnya di sana sendiri, juga bertangungjawab terhadap keluarganya di Indonesia yang telah ditinggal meninggal oleh ayahnya, membantu Ibunya membiayai ketiga adiknya di Indonesia dengan menjadi pembuat tempe dan juga penjual bakso di mesir, dengan target marketing utamanya adalah orang-orang di KBRI, jiwa enterpreneur Azzam sangat terlihat ketika putri seorang Duta Besar Indonesia di Mesir akan merayakan ulang tahunnya dan memesan hidangan untuk pesta kepadanya, Putri Duta Besar tersebut meminta hidangannya adalah soto lamongan, Azzam menyanggupi pesanan tersebut meski dirinya tidak paham seperti apa membuat soto lamongan, dia hanya mengandalkan bahwa ada teman satu rumahnya yang berasal dari lamongan, dan juga meski ternyata temannya tersebut juga tidak paham soal membuat soto lamongan, apa yang kemudian dikatakan Azzam ?, “Iya kamu tidak bisa, tapi Ibumu bisa kan ?, kamu telepon ke lamongan tanya resepnya yang lengkap !, nanti saya yang bayar pulsanya, ini yang namanya memanfatkan tantangan menjadi peluang“, secuil cerita yang menggambarkan jiwa enterpreneur seorang Azzam yang tinggi.

Karakter sebagai Lelaki sejati juga muncul dalam diri Azzam, terlihat ketika dia menolong Anna Althofunnisa dan temannya saat kehilangan dompetnya dan barang-barangnya tertinggal di bus yang mereka tumpangi, seorang yang peduli dengan Wanita, menghargai, dan juga mencintai Wanita tapi tetap bersikap acuh di hadapan mereka, dan itu yang membuat Wanita tergila-gila padanya, karakter seperti ini mengingatkanku dengan tokoh Peter “Maverick” Mitchell yang diperankan Tom Cruise dalam Film Top Gun di era tahun 80an, dan juga Tokoh Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra dalam Film Ada Apa dengan Cinta beberapa tahun lalu, mereka adalah contoh karakter seorang lelaki sejati.

Saya belum pernah membaca novel Ketika bertasbih, berbeda dengan Film yang terlebih dahulu dibuat yang juga ceritanya diambil dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy yaitu Ayat-ayat Cinta, yang telah ku baca novel dan juga ku tonton Filmnya, sebenarnya dalam novel Ayat-ayat Cinta karakter seorang Enterpreneur dan juga Lelaki Sejati juga melekat pada diri tokoh utamanya yaitu Fahri, tapi saat melihat Filmnya saya kurang bisa melihat karakter tersebut, Film Ayat-ayat cinta lebih menonjolkan sisi kisah percintaan Fahri, berbeda dengan di Film Ketika Cinta Bertasbih yang bisa bisa menampilkan berbagai sisi kepribadian seorang Azzam dan juga tetap bisa menampilkan kehidupan percintaannya.

oleh sebab itu bagi yang belum pernah nonton Film Ketika Cinta Bertasbih, sebelum menonton sekuel keduanya, saya sarankan untuk segera nonton, karena ini Film Pembangun Jiwa yang sangat Inspiratif.

One Response to Tulisan setelah Nonton Film

  1. azzaam says:

    wah, saya malah sama sekali belum nontonšŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: