Sekilas Tentang SP3

Pengangguran dan kemiskinan hingga saat ini merupakan masalah besar Bangsa Indonesia yang belum bisa terpecahkan. Menurut data BPS Februari 2008, jumlah penganggur terbuka tercatat sebanyak 9,42 juta orang (8,48%) dari total angkatan kerja sekitar 111,4 juta orang. Dari jumlah 9,42 juta orang penganggur tersebut sebanyak ± 7,40 juta orang (78,38%) adalah pemuda yang termasuk kategori usia produktif (15 – 35 tahun). Jika dilihat dari latar belakang pendidikan para penganggur tersebut, 27,09 persen berpendidikan SD ke bawah, 22,62 persen berpendidikan SLTP, 25,29 persen berpendidikan SMA, 15,37 persen berpendidikan SMK dan 9,63 persen berpendidikan Diploma sampai Sarjana. Sedangkan bila dilihat dari lokasi desa/kota, maka penyebaran pengangguran ini terlihat sebanyak 5,24 juta orang (52,3%) berada di perkotaan, dan 4,2 juta orang (47,7%) berada di perdesaan.

Dari data di atas terlihat bahwa tingkat pengangguran pemuda masih cukup tinggi, apabila tidak memperoleh perhatian yang serius mengakibatkan masalah sosial yang cukup tinggi pula. Beberapa masalah sosial yang diakibatkan oleh tingginya pengangguran diantaranya: penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, pergaulan bebas, premanisme, trafficking, dan lain sebagainya. Kondisi tersebut akan mengganggu pembangunan di segala bidang dan stabilitas nasional.

Besarnya angka pengangguran terdidik yang berpendidikan diploma sampai dengan sarjana dan tingginya angka penggangguran di perdesaan mendorong pemerintah untuk menciptakan program pemberdayaan pemuda desa dalam bidang kewirausahaan, yang disebut Program Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (SP-3). Program ini pertama kali diluncurkan tahun 1989 dan dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional hingga tahun 2005, dan dilanjutkan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga hingga sekarang. Total sarjana yang telah berhasil dikerahkan ke daerah pedesaan sebagai peserta program SP-3 sejak awal diluncurkan hingga tahun 2008 berjumlah 15.360, tersebar pada 33 provinsi di Indonesia.

Program SP-3 bertujuan antara lain untuk mendorong dan memfasilitasi peran pemuda dalam membantu percepatan pembangunan desa di berbagai sektor, terutama sektor ekonomi yang berbasis pada sumberdaya lokal. Tujuan ini dapat dilakukan antara lain melalui pendidikan kecakapan hidup (life skill) kewirausahaan bagi pemuda desa.

Dikontrak untuk memfasilitasi dan menggerakkan pembangunan di wilayah pedesaan, diharapkan dapat membangun dan menciptakan lapangan kerja baik untuk dirinya sendiri (kewirausahaan) maupun untuk orang lain, dan mempunyai sikap kemandirian dan jiwa patriotisme serta mampu menjadi perintis untuk melakukan terobosan-terobosan di pedesaan dengan meningkatkan profesionalisme dalam mentransfer ilmu dan teknologi di pedesaan, terutama dalam menyukseskan program gerakan ekonomi kerakyatan adalah sepintas tentang hakekat tugas dari seorang Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (SP3), Gubernur Jawa Tengah H. Bibit Waluyo mempunyai keinginan untuk mensejahterakan masyarakat Jawa Tengah dengan konsep Bali Deso Mbangun Deso, dan program SP3 merupakan salah satu program yang selaras tujuannya dengan konsep tersebut, demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera.

2 Responses to Sekilas Tentang SP3

  1. Indojobs.org says:

    yah.. angka pengangguran memang masih menjadi momok di negara ini…

  2. aril says:

    Akses internet unlimited XL, Smart, Star One, Speedy, Telkom, Axis, ada solusinya paling tepat, dan paling murah, diterapkan diwonosobo jg OK….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: